Selasa, 26 Agustus 2025 20:13:13 WIB

Opini: Dari Pencemar Terbesar Jadi Penyelamat Bumi, Tiongkok Bungkam Kritik Global dengan Jadi Negara Terbesar dan Tercepat pertumbuhannya di dunia dalam Sistem Energi Terbarukan
Tiongkok

Muhammad Rizal Rumra

banner

Jaringan listrik modern berdampingan dengan ladang panel surya di Tiongkok, menandai transisi besar negara itu dari ketergantungan batu bara menuju dominasi energi bersih

Selama periode Rencana Lima Tahun ke-14 (2021–2025), Tiongkok mencatatkan diri sebagai negara dengan sistem energi terbarukan terbesar dan pertumbuhan tercepat di dunia. Pernyataan ini tidak datang dari analis luar, melainkan dari Wang Hongzhi, Kepala Administrasi Energi Nasional Tiongkok, yang dalam konferensi pers terbaru mengungkap bahwa pangsa energi terbarukan dalam total kapasitas pembangkit listrik Tiongkok telah melonjak dari sekitar 40 persen menjadi 60 persen hanya dalam waktu empat tahun. Ini adalah perubahan struktural yang sangat cepat untuk skala ekonomi sebesar Tiongkok, dan memiliki implikasi domestik sekaligus global.

Pertumbuhan konsumsi energi nasional Tiongkok dalam empat tahun pertama Rencana Lima Tahun ke-14 disebut-sebut telah mencapai 1,5 kali lipat dibandingkan periode Rencana Lima Tahun ke-13 sebelumnya. Bahkan, konsumsi listriknya diperkirakan akan melampaui konsumsi tahunan seluruh Uni Eropa. Pada Juli 2025, konsumsi listrik Tiongkok mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, menembus angka 1 triliun kilowatt-jam dalam satu bulan setara dengan konsumsi listrik tahunan Jepang. Ini bukan hanya cerminan dari naiknya suhu akibat gelombang panas, tetapi juga mencerminkan kekuatan industri dan aktivitas ekonomi yang tetap stabil di tengah ketidakpastian global.

Secara domestik, transformasi ini merupakan bagian dari strategi besar Tiongkok untuk meningkatkan ketahanan energi. Tingkat swasembada energi negara ini telah tetap di atas 80 persen selama periode 2021–2025. Artinya, sebagian besar energi yang dikonsumsi dihasilkan di dalam negeri. Wang mencatat bahwa lebih dari 90 persen pertumbuhan konsumsi energi selama empat tahun terakhir dipenuhi oleh produksi domestik. Ini adalah pencapaian penting, terutama di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian akibat konflik geopolitik, disrupsi rantai pasok, dan lonjakan harga energi internasional.

Dalam kerangka teori hubungan internasional, pencapaian ini bisa dianalisis dari berbagai sudut pandang. Dari perspektif realisme, negara dianggap sebagai aktor utama yang bertindak demi kepentingan nasionalnya, khususnya dalam menjaga keamanan dan kelangsungan hidup. Dalam konteks ini, transformasi energi Tiongkok adalah bagian dari strategi memperkuat otonomi nasional dan mengurangi ketergantungan pada energi impor, terutama dari wilayah-wilayah yang secara geopolitik tidak stabil seperti Timur Tengah atau Afrika Utara. Realisme memandang bahwa kemandirian energi adalah kekuatan strategis. Ketika negara lain masih bergantung pada harga minyak dunia yang fluktuatif, Tiongkok justru membangun sistem energi domestik yang kuat, hijau, dan stabil.

Sementara itu, pendekatan liberal dalam hubungan internasional menekankan pentingnya kerja sama, institusi global, dan saling ketergantungan ekonomi antarnegara. Jika dilihat dari sudut ini, Tiongkok tidak sekadar berupaya menjadi negara mandiri energi, melainkan juga aktor global dalam transisi energi bersih. Tiongkok saat ini adalah eksportir terbesar teknologi energi terbarukan di dunia, termasuk panel surya, baterai litium, dan turbin angin. Melalui proyek Belt and Road Initiative (BRI) versi hijau, Tiongkok menyediakan teknologi dan pendanaan bagi negara-negara berkembang untuk membangun sistem energi ramah lingkungan. Ini adalah bentuk soft power baru yang tidak berbasis militer atau kekuatan finansial semata, tetapi melalui kepemimpinan teknologi hijau.

Di sisi lain, dari pendekatan konstruktivisme, yang memandang bahwa identitas dan nilai-nilai negara terbentuk melalui interaksi sosial dan konstruksi makna, Tiongkok sedang membangun narasi baru tentang dirinya di mata dunia. Negara yang dulu dikenal sebagai pencemar terbesar di dunia kini ingin dikenang sebagai pemimpin dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon. Retorika “pembangunan hijau” dan “modernisasi ramah lingkungan” menjadi bagian penting dari citra global baru Tiongkok, yang diperkuat melalui kebijakan domestik, diplomasi iklim, serta keterlibatan dalam forum-forum seperti Konferensi Para Pihak (Conference of the Parties/COP) dan Kelompok 20 (Group of Twenty/G20).

Namun demikian, tidak ada kebijakan yang bebas dari dilema. Transformasi energi Tiongkok menghadapi paradoks yang khas, meskipun porsi energi non-fosil meningkat sekitar satu persen setiap tahunnya dan penggunaan batu bara menurun dengan laju yang sama, total konsumsi energi masih meningkat secara absolut. Wang menyatakan bahwa dalam empat tahun terakhir, konsumsi energi Tiongkok meningkat sebesar 980 juta ton batu bara standar yang mana jumlah tersebut setara dengan konsumsi energi tahunan gabungan Inggris, Prancis, dan Jerman. Dengan kata lain, meskipun proporsinya menurun, volume penggunaan energi fosil secara keseluruhan tetap besar, akibat pesatnya industrialisasi dan urbanisasi.

Kondisi ini memperlihatkan betapa kompleksnya transisi energi di negara berkembang besar seperti Tiongkok. Transformasi ke arah energi bersih bukan sekadar soal mengganti sumber daya, tetapi juga menyangkut tata kelola, keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan, serta dinamika politik dalam dan luar negeri. Meski begitu, capaian seperti pembangkit energi baru yang menyumbang hampir 50 persen dari pertumbuhan kapasitas nasional, serta lonjakan energi non-fosil yang juga mendekati 50 persen dari pasokan tambahan, menandai perubahan struktural yang tidak bisa diabaikan.

Stabilitas pasokan energi juga diperkuat melalui pembangunan sistem yang lengkap baik dari produksi, pasokan, penyimpanan, hingga distribusi dan harga. Tiongkok bahkan telah memperluas jaringan cadangan nasional untuk minyak dan gas, serta mengembangkan sistem pasar listrik dengan melibatkan hampir satu juta badan usaha, naik lima kali lipat sejak tahun 2020. Ini adalah bentuk reformasi pasar yang sangat masif, sekaligus membuktikan bahwa transisi energi juga bisa menjadi peluang pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Dalam konteks global, keberhasilan atau kegagalan Tiongkok dalam transisi energi akan sangat menentukan arah dunia. Sebagai negara dengan porsi emisi karbon terbesar, peran Tiongkok dalam menurunkan emisi global adalah krusial. Namun lebih dari itu, Tiongkok telah menunjukkan bahwa transformasi energi bukanlah beban, tetapi bisa menjadi sumber kekuatan strategis baru. Energi bersih bisa menjadi tulang punggung kemandirian nasional, alat diplomasi internasional, dan sumber reputasi global yang positif.

Bagi negara-negara berkembang lain, termasuk Indonesia, Tiongkok memberikan pelajaran penting. Bahwa dengan perencanaan jangka panjang yang konsisten, investasi dalam teknologi, dan keberanian untuk mereformasi sistem energi secara struktural, transisi menuju masa depan hijau bukan hanya mungkin, tetapi juga menguntungkan. Energi, pada akhirnya, bukan hanya urusan teknis atau ekonomi melainkan juga arena politik, kekuasaan, dan masa depan peradaban.

Komentar

Berita Lainnya

Petani di wilayah Changfeng Tiongkok

Selasa, 4 Oktober 2022 14:51:7 WIB

banner
Pembalap Formula 1 asal Tiongkok Tiongkok

Selasa, 4 Oktober 2022 15:19:35 WIB

banner