Jumat, 29 Agustus 2025 12:57:15 WIB

Pemuda Inggris: Perang Perlawanan Tiongkok terhadap Agresi Jepang Harus Dikenang demi Perdamaian
Sosial Budaya

Eko Satrio Wibowo

banner

Alexey Lysenko, Pemuda Inggris (CMG)

Tiongkok, Radio Bharata Online - Seorang pemuda Inggris menemukan betapa berharganya perdamaian saat mempelajari sejarah Perang Perlawanan Tiongkok Melawan Agresi Jepang, dan mengajak dunia untuk belajar dari masa lalu dan merenungkan kebrutalan perang.

Pemuda Inggris, Alexey Lysenko, saat ini bekerja dan tinggal di Tiongkok. Selama kunjungannya, ia telah mengunjungi Shanghai, Nanjing, Shenyang, dan kota-kota lain tempat pertempuran sengit terjadi dan rakyat jelata menderita akibat agresi Jepang. Ia sangat tersentuh oleh upaya luar biasa dan pengorbanan luar biasa yang dilakukan oleh rakyat Tiongkok.

Tahun ini menandai peringatan 80 tahun kemenangan Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang dan Perang Anti-Fasis Dunia. Dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh China Global Television Network (CGTN), Lysenko mengatakan bahwa pengorbanan yang dilakukan oleh rakyat Tiongkok harus direnungkan dan diwariskan.

"Setahu saya, perlawanan Tiongkok terhadap Jepang berlangsung selama lebih dari satu dekade, dari tahun 1931 hingga 1945, dan merupakan garda terdepan dalam perjuangan global melawan fasisme. Pertempuran Songhu, yang terjadi pada tahun 1937, dan Pembantaian Nanjing yang brutal adalah salah satu contoh terbesar penderitaan dan ketangguhan Tiongkok. Meskipun mengalami kerugian besar, perlawanan Tiongkok berhasil melumpuhkan pasukan Jepang, yang berkontribusi signifikan terhadap kemenangan Sekutu. Saya juga pernah ke Shenyang dan mengunjungi Museum Sejarah 918, yang menurut saya merupakan tempat yang sangat ampuh untuk membantu orang-orang mengingat sejarah dan memahami nilai sejati perdamaian. Sejarah mengajarkan kita pentingnya melawan ketidakadilan, menghargai martabat manusia, dan melindungi kebebasan. Sejarah juga menunjukkan bagaimana persatuan lintas bangsa, budaya, dan ideologi dapat mengatasi bahkan kekuatan terkelam sekalipun. Pengorbanan yang telah dilakukan mengingatkan kita bahwa perdamaian bukanlah sesuatu yang pasif. Perdamaian adalah sesuatu yang harus kita jaga secara aktif melalui pendidikan, empati, dan kewaspadaan," paparnya.

Menurut pemuda itu, mengenang sejarah bukan hanya tentang menghormati masa lalu, tetapi tentang membentuk masa depan yang lebih baik sambil belajar untuk tidak pernah menganggap remeh perdamaian.

"Saya berharap akan masa depan di mana negara-negara memprioritaskan dialog daripada dominasi dan di mana teknologi, pendidikan, dan nilai-nilai bersama membantu menjembatani kesenjangan. Menurut saya, perdamaian berarti keadilan, rasa hormat, dan kerja sama. Perdamaian dimulai dari individu, bagaimana kita memperlakukan satu sama lain, bagaimana kita menyelesaikan konflik, dan bagaimana kita memilih belas kasih daripada kebencian. Jika kita meneruskan pelajaran sejarah, kita dapat menciptakan dunia di mana perdamaian bukan sekadar harapan, melainkan realitas bersama. Dan harapan saya adalah generasi mendatang tidak hanya mewarisi pelajaran perang, tetapi juga kebijaksanaan untuk mencegahnya. Dunia yang damai bukanlah mimpi, melainkan tujuan yang patut diperjuangkan bersama," jelas Lysenko.

Komentar

Berita Lainnya

Dengan sejarah lebih dari 2 Sosial Budaya

Rabu, 5 Oktober 2022 20:44:15 WIB

banner
roduksi kapas di Xinjiang mencapai 5 Sosial Budaya

Rabu, 12 Oktober 2022 22:32:41 WIB

banner
Alunan biola Sosial Budaya

Selasa, 18 Oktober 2022 22:53:38 WIB

banner
Meliputi area seluas 180 Sosial Budaya

Rabu, 19 Oktober 2022 10:28:48 WIB

banner
Dalam edisi keempatnya Sosial Budaya

Senin, 24 Oktober 2022 18:0:34 WIB

banner