Kamis, 28 Agustus 2025 20:5:4 WIB

Opini: Untuk Pertama Kalinya, Limbah Plastik Jadi Bensin Berkat Sains yang Menyatukan AS dan Tiongkok
International

Muhammad Rizal Rumra

banner

Ilustrasi proses pirolisis limbah plastik menjadi bahan bakar

Di tengah krisis lingkungan yang semakin memprihatinkan, muncul sebuah kabar menggembirakan dari dunia sains. Para ilmuwan dari Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok baru saja berhasil mengembangkan sebuah teknologi revolusioner yang mampu mengubah sampah plastik, termasuk jenis beracun seperti Polivinil Klorida (Polyvinyl Chloride/PVC), menjadi bensin dan bahan kimia industri lainnya hanya dalam satu langkah. Teknologi ini tidak hanya efisien, tapi juga sangat ramah lingkungan karena dilakukan pada suhu ruang tanpa proses pemanasan atau deklorinasi berenergi tinggi seperti yang biasa digunakan dalam metode daur ulang kimia konvensional.

Tim peneliti yang terdiri dari ilmuwan dari Laboratorium Nasional Pasifik Barat Laut (Pacific Northwest National Laboratory/PNNL) yang didanai oleh Departemen Energi AS, Universitas Columbia, Universitas Teknik Munich di Jerman, dan Universitas Normal Tiongkok Timur (East China Normal University/ECNU), mempublikasikan hasil penelitiannya pada 14 Agustus 2025 di jurnal ilmiah terkemuka Science.

Mereka berhasil menunjukkan bahwa limbah plastik campuran yang biasanya sulit atau bahkan mustahil untuk didaur ulang secara efisien, dapat diubah menjadi bensin berkualitas tinggi serta bahan kimia penting seperti asam klorida hanya dengan mencampurkan limbah tersebut dengan isoalkana ringan, sejenis hidrokarbon yang merupakan produk sampingan dari proses penyulingan minyak.

Proses ini menghasilkan hidrokarbon dengan rantai karbon antara enam hingga dua belas atom, yang merupakan komponen utama dari bensin. Dengan efisiensi konversi mencapai lebih dari 95 persen untuk berbagai jenis plastik, termasuk polietilena, polipropilena, dan bahkan pipa PVC kaku maupun lunak, temuan ini membuka kemungkinan pemanfaatan limbah plastik secara masif sebagai sumber energi alternatif. Dalam uji coba, efisiensi proses bahkan mencapai 99 persen untuk pipa PVC kaku dan kawat PVC. Teknologi ini juga terbukti efektif pada limbah plastik campuran, dengan efisiensi sekitar 96 persen pada suhu 80 derajat Celsius.

Yang membuat metode ini semakin menarik adalah kemampuannya untuk menangani limbah plastik campuran yang terkontaminasi, suatu kondisi yang lazim ditemukan di tempat pembuangan akhir di seluruh dunia. Proses ini tidak hanya mengubah plastik menjadi bahan bakar, tetapi juga memisahkan zat berbahaya seperti klorin dengan menghasilkan asam klorida dalam bentuk yang bisa digunakan kembali secara aman dalam berbagai industri, mulai dari pengolahan air, farmasi, hingga industri makanan dan logam. Hal ini secara langsung menjawab tantangan besar yang selama ini dihadapi oleh teknologi daur ulang kimia, seperti tingginya konsumsi energi dan banyaknya tahapan proses yang membuatnya tidak efisien dan berbiaya tinggi.

Secara global, 10 miliar ton plastik telah diproduksi sepanjang sejarah manusia, dan sebagian besar di antaranya akhirnya menjadi limbah yang sulit diurai. Plastik jenis poliolefin, termasuk polietilena dan polipropilena, menyumbang sekitar 50 persen dari total produksi plastik dunia. Sementara itu, sekitar 10 persen lainnya adalah PVC yang mengandung senyawa vinil klorida, yakni zat yang diklasifikasikan sebagai karsinogen oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS. Inilah mengapa metode pembakaran sampah plastik berklorin sangat berbahaya, karena bisa menghasilkan senyawa beracun jika tidak didahului dengan proses deklorinasi.

Dengan munculnya teknologi ini, terbuka peluang untuk mengubah sampah plastik menjadi sumber energi bersih yang bisa menggantikan bahan bakar fosil sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan. Artinya, kita bisa membayangkan masa depan di mana plastik bukan lagi menjadi momok lingkungan, tetapi malah menjadi bagian dari solusi krisis energi dan perubahan iklim. Selain itu, asam klorida yang dihasilkan dari proses ini tidak hanya aman, tetapi juga bisa menggantikan proses produksi asam klorida konvensional yang memerlukan energi tinggi, sehingga berkontribusi pada pengurangan jejak karbon industri secara keseluruhan.

Namun, di balik keberhasilan ini terselip juga sejumlah pertanyaan penting dari sisi etika dan keadilan global. Meskipun teknologi ini sangat menjanjikan, siapa yang akan mengakses dan menguasainya? Akankah teknologi ini terbuka dan tersedia bagi semua negara, termasuk negara-negara berkembang yang saat ini menjadi tujuan utama ekspor sampah plastik dari negara-negara industri? Ataukah justru akan menjadi komoditas eksklusif yang hanya dimiliki dan dimanfaatkan oleh negara-negara maju, memperbesar ketimpangan global dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya energi?

Dari sudut pandang geopolitik, keberhasilan kolaborasi antara ilmuwan dari AS dan Tiongkok juga memberikan harapan bahwa kerja sama lintas negara dalam bidang sains dan teknologi tetap mungkin dilakukan meskipun kedua negara tengah berada dalam ketegangan politik dan ekonomi yang serius. Fakta bahwa mereka mampu bekerja bersama untuk menghasilkan inovasi sebesar ini menjadi contoh nyata bahwa isu-isu global seperti krisis lingkungan dan perubahan iklim membutuhkan solusi bersama, lintas batas negara dan ideologi.

Terobosan ini tidak hanya penting dari segi ilmiah, tetapi juga berpotensi membawa dampak besar dalam dunia industri, kebijakan energi, diplomasi lingkungan, dan bahkan cara masyarakat dunia memandang limbah plastik. Jika teknologi ini berhasil dikembangkan dan diadopsi secara luas, dunia bisa memasuki era baru di mana plastik tak lagi menjadi simbol pencemaran, tetapi justru menjadi sumber daya berharga yang mendorong ekonomi sirkular, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat ketahanan energi berbagai negara.

Di tengah krisis iklim yang terus memburuk dan tumpukan sampah plastik yang terus menggunung di lautan maupun daratan, penemuan ini menjadi cahaya terang di ujung lorong. Namun, agar cahaya itu bisa menerangi semua, bukan hanya segelintir, diperlukan komitmen bersama dari pemerintah, ilmuwan, pelaku industri, hingga masyarakat biasa. Teknologi yang luar biasa ini adalah langkah awal dan sisanya bergantung pada bagaimana kita, umat manusia, memilih untuk menggunakannya.

Komentar

Berita Lainnya

Forum Pangan Dunia ke-2 yang dibuka di Roma International

Selasa, 18 Oktober 2022 23:8:41 WIB

banner
Giorgia Meloni International

Sabtu, 22 Oktober 2022 11:57:58 WIB

banner